Peribahasa Indonesia (abjad A)
Kumpulan Peribahasa Indonesia:
Peribahasa Abjad A
1. Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Perbuatan manusia harus sesuai dengan adat dan agama. 2. Adat rimba raya, siapa berani ditaati. Manusia yang hanya menggunakan kekerasan, tidak bijaksana.
3. Adat teluk timbunan kapal. Kita bertanya kepada yang pandai.
4. Ada beras, taruh di dalam peti. Kita harus bisa menyimpan rahasia orang lain.
5. Adat gunung tepatan batu. Orang kaya adalah tempat meminta dan orang pandai tempat bertanya.
6. Adat lama pusaka usang. Adat dari dahulu kala, tidaka beerubah-ubah.
7. Adat juara kalah menang, adat saudagar rugi laba. Dalam kehidupan kita mengalami pasang surut, kita harus sabar menjalani kesulitan.
8. Adakah duri dipertajam. Orang yang cerdik tidak perlu dinasehati.
9. Adat sepanjang jalan, cupak sepanjang betung. Mengerjakan sesuatu, hendaklah menurut aturan yang berlaku.
10. Adakah raja menolak sembah? Jarang orang yang tidak suka menerima atau mempersembahkan sekali orang lain.
11. Adakah dari telaga yang mengalir deras air yang keruh. Orang yang baik dan berilmu tidak akan berkata yang keji.
12. Adakah hilang bisa ular karena menyusup di bawah akar. Orang besar jika bergantung pada derajatnya tidak akan turun.
13. Air pun ada pasangnya. keadaan seseorang terkadang tetap, kadang di atas kadang di bawah.
14. Adat pasang turun naik. Perihal kekayaan dan kedudukan selalu berubah-ubah.
15. Air beriak tanda tak dalam. Orang terlalu banyak bicara biasanya bodo.
16. Air susu dibalas dengan air tuba. Kebaikan dibalas dengan kejahatan.
17. Air tenang menghanyutkan. Orang yang pendiam biasanya pandai.
18. Air mata jatuh ke perut. Perasaan duka cita yang tidak terlihat, karena dirasakan sendiri.
19. Air orang disauk, mengomel dipatah, adat orang diturut. Hendaknya kita menghormati adat istiadat negeri sendiri.
20. Udara yang dingin juga dapat melihat api. Orang yang sedang marah dapat ditenangkan dengan sikap dan kata-kata yang lemah lembut.
21. Udara yang tenang jangan dikira tiada berbuaya. Orang yang pendiam jangan disangka orang yang baik-baik saja.
22. Air sama air kelak menjadi satu, namun sampah itu ketepi juga. Jika terjadi keluarga yang dicampuri oleh pihak ketiga, suatu saat akan berbaik kembali, sedang pihak ketiga akan mendapat malu.
23. Adat diisi, tembaga dituang. Mengerjakan sesuatu harus sesuai dengan ketentuan yang telah dibuat.
24. Alah bisa karena biasa. Segala kesulitan tidak terasa bila sudah biasa mengerjakannya.
25. Akal singkat pendapat kurang. Masih muda dan belum banyak pengetahuannya.
26. Alu patah lesung hilang. Ditimpa musibah tetus terus menerus.
27. Anak dipangku dilepaskan, beruk dirimba disusukan. Menyelesaikan urusan orang lain, sedangkan urusan sendiri terabaikan.
28. Anak baik menantu molek. Selalu mendapat keuntungan.
29. Anak cantik menantu gagah. Mengenai sesuatu yang selara.
30. Anak dipangku, kemenakan dibimbing, orang kampung dipertengangkan. Pertimbangkan segala sesuatu dengan benar, jangan sampai ada yang merasa dirugikan.
31. Anak panah yang sudah terlepas dari busurnya tidak dapat dikembalikan lagi. sesuatu yang sudah terlanjur, siusah memperbailei, kembali.
32. Anak sebatang kara. Hidup seorang diri.
33. Anak sendiri disayang, anak tiri dihardik. Kasih sayang yang diberikan tidak adil.
34. Angan lalu paham tertumbuk. Menurut pertimbangan dapat dikerjakan, tetapi banyak halangan untuk melaksanakannya.
35. Adat dunia balas membalas, syariat palu-memalu. Kebaikan dibalas dengan kebaikan, kejahatan dibalas dengan kejahatan.
36. Angan-angan menerawang langit. Mengharapkan sesuatu yang sulit dicapai.
37. Angin berputar, ombak bersambung. Hal yang tidak mudah diselesaikan karena banyak pengangkutan-pautnya.
38. Angguk bukan, geleng iya. Lain di mulut lain pula dihati.
39. Angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam. Hal yang tidak bisa dirahasiakan lagi.
40. Angus tiada berapi, karam tiada berair. Sangat menderita karena tertimpa musibah terus-menerus.
41. Angan-angan mengikat tubuh. Sesuatu yang menyusahkan diri sendiri.
42. Anjing menggonggong tiada menggigit. Ancaman yang tidak membahayakan.
43. Anjing galak babi berani. Pertemuan antara dua orang yang sama-sama pemberani.
44. Apa gunanya kemenyan sebesar tungku, kalau tidak dibakar. Ilmu yang banyak tidak akan berguna jika tidak diamalkan.
45. Apa kurang pada belida, sisik ada tulangpun ada. Serba berkecukupan.
46. Api padam puntung berasap. Perkara yang sudah selesai, tapi kemudian muncul kembali.
47. Adat gunung tepatan kabut. Sudah sepatutnya orang kaya adalah tempat meminta, dan orang pandai adalah tempat bertanya.
48. Api padam puntung hanyut. Perkara yang telah selesai.
49. Arang habis besi binasa. Pekerjaan yang telah menghabiskan banyak biaya dan tenaga, tapi usaha tersebut sia-sia.
50. Arang tercoreng di kening. Mendapat malu.
51. Asal ada, kecilpun pada. Kalau tidak ada rejeki yang banyak, yang sudah cukup.
52. Arah bertukar jalan. Cita-cita sama, tetapi cara mencapainya berbeda
53. Aur yang ditanam betung tumbuh. Mendapatkan rejeki yang lebih.
54. Asing biduk galang ditelak. Jawaban yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan.
55. Asam di gunung, garam di laut, bertemu di satu belanga. Kalau sudah jodoh, walaupun tidak saling mengenal dan berjauhan ,akhirnya bertemu juga.
56. Awak rendah sangkutan tinggi. Pengeluaran lebih besar dari pendapatan.
57. Awal yang dikenal akhir tidak. Tidak mempertimbangkan baik-buruknya.
58. Awal dikenang akhir tidak, alamat badan akan binasa. Selagi muda hendaklah mengingat bekal di hari tua.
59. Air besar batu bersibak. Jika terjadi sesuatu yang besar, tiap-tiap golongan mencari pemimpinnya masing-masing.
60. Akal akar berpulas tak patah. Orang cerdik takpernah kehabisan akal.
61. Ayam bertelor di padi mati kelaparan, itik berenang di air mati kehausan. Orang yang tinggal di negeri yang makmur pun kalat tidak pandai berusaha untuk hidup miskin.
62. Ayam berunduk, sirih berjunjang. melindungi yang lemah agar selamat.
63. Ayam ditambat disambar elang. sesuatu yang dijaga dengan baik tetapi dapat juga jatuh ke tangan orang lain.
64. Ayam tangkas di gelanggang. Orang pandai berbicara di muka umum.
65. Ayam berkokok hari siang. Sudah terlihat tanda-tanda yang pasti.
66. Ayam bertelur sebutir ribut seluruh negeri, penyu bertelur beribu-ribu tak seorangpun tahu. Orang miskin mendapatkan untung sedikit saja, tetapi orang kaya yang memiperoleh untung yang besar, tidak ada orang yang tahu.
67. Ayam hitam terbang malam, hinggap ke rimba dalam, bertali ijuk berambang tanduk. Perkara kejahatan yang amat sukar dilacak.
68. Ayam putih terbang siang, hinggap di kayu merarasi, bertali benang berambang tulang. Suatu perkara kejahatan yang sudah benar-benar jelas, cukup dengan saksinya.
69. Asal berisi tembolok, senang hati. Asal cukup sandang pangan, hati senang.
70. Akal tak sekali datang, runding tak sekali tiba. Untuk mencapai sesuatu harus secara bertahap.
71. Ambil pati, buanglah ampas. Ambil yang baik saja, yang buruk dibuang.